Pembuatan Jembatan Gantung

By | 10 Juni 2019
5/5 (1)

Pembuatan Jembatan Gantung

Pembuatan Jembatan Gantung! Jembatan adalah sarana penghubung yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya atau satu desa dengan desa lainnya yang terpisah oleh sungai, danau, ngarai, jurang atau laut. Konstruksi pembuatannya jelas berbeda dengan pembuatan jalan aspal lainnya. Perbedaannya terutama terletak pada desain dan struktur jembatan.

Pembuatan jembatan gantung ini sangat diperlukan sekali di tanah air. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang memiliki banyak sungai, lereng, bukit dan jurang. Sehingga keberadaan jembatan gantung sangat dibutuhkan untuk menghubungkan dua wilayah yang terpisah dan saling membutuhkan yang berada di sekitar wilayah sepanjang sungau atau jurang tersebut. Dengan begitu hubungan antar wilayah dapat berjalan baik dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakatnya.

Jembatan adalah jalan yang umumnya terbuat dari bahan seperti kayu, bambu, baja, dan beton yang dirangkai sedemikian rupa dan direntangkan di atas jurang, ngarai, sungai, lereng, dan bukit yang memisahkan daerah-daerah agar bisa terhubung satu sama lainnya. Jembatan gantung adalah jembatan yang digantung di atas jurang, ngarai, lereng, bukit dan sungai dengan menggunakan tali atau kawat penghubung dan dibangun dengan kokoh.

Pembuatan jembatan gantung umumnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini bisa dimaklumi lantaran bahan-bahan pokok yang dibutuhkan untuk membuatnya sangat banyak dan mahal. Selain itu tenaga kerja yang diperlukan pun cukup banyak. Itu lah sebabnya di kampung-kampung atau pedesaan, jembatan gantung dibangun secara swadaya dan bersama-sama baik dana maupun pengerjaannya. Waktu yang dibutuhkan pun cukup lama. Ini untuk membuat jembatan gantung tersebut bertahan lama dan tidak mudah rusak atau roboh.

Di pedesaan jembatan gantung umumnya digunakan untuk akses pengendara motor, sepeda, atau anak-anak yang hendak bersekolah. Jarang sekali jembatan gantung difungsikan untuk menarik hasil pertanian dalam jumlah besar dengan menggunakan pedati. Ini disebabkan karena lebar jembatan gantung hanya sekitar satu meter saja dengan panjang jembatan menyesuaikan jarak bentang sungai atau jurang yang memisahkan kedua daerah tersebut.

Selain menggunakan bahan bangunan yang biasa dijual di toko bangunan, masyarakat pedesaan banyak menggunakan bambu sebagai tulang rangka jembatan gantung dalam pembuatan jembatan gantung. Bambu yang digunakan pun tidak lah sembarangan. Ada jenis bambu yang memang biasa digunakan untuk bahan bangunan dan bertahan lama. Biasanya bambu-bambu yang digunakan ini sebelumnya sudah mengalami beberapa treatment khusus untuk membuatnya lebih kuat dan tahan lama terhadap perubahan cuaca. Misalnya, direndam terlebih dahulu selama beberapa minggu setelah ditebang. Bambu yang ditebang pun adalah bambu yang benar-benar lurus dan tidak bengkok dengan lebar diameter yang sama.

Oleh sebab itu maka di pedesaan dikenal jembatan gantung bambu, jembatan goyang dan sebagainya. Dikatakan jembatan goyang karena jembatan gantungnya bergoyang-goyang bila digunakan oleh sekelompok orang pada waktu yang bersamaan. Bagi yang belum terbiasa menggunakan jembatan gantung Dengan rangka bambu ini pasti akan menjerit ketakutan lantaran ngeri melihat ke bawah jembatan saat jembatan gantung bergoyang-goyang.

Selain bambu, pembuatan jembatan gantung di pedesaan biasanya memerlukan tali yang sangat tebal dan kuat. Tali-tali ini dianyam sedemikian rupa agar tidak mudah putus dan tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Bahan utama pembuatan tali ini adalah dari bagian tubuh pohon enau atau aren.

Sebagai tulang rangka jembatan gantung, batang pohon kelapa banyak sekali digunakan di daerah pedesaan selain bambu. Batang kelapa dibelah dua dan keduanya disusun sebagai tulang jembatan dan tak jarang pula sebagai lantai jembatan gantung. Batang pohon kelapa dipilih karena kekuatan dan kemampuannya bertahan dari cuaca dan beban yang melintasinya.

Untuk pondasi pembuatan jembatan gantung, umumnya masyarakat menggunakan material sederhana. Cukup adukan semen, kerikil, pasir, batu kali dan air secukupnya.

Kini, pembuatan jembatan gantungdi beberapa daerah pedesaan di Indonesia sudah cukup modern. Waktu pengerjaannya yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, kini bisa dipersingkat menjadi hanya 120 hari saja. Konstruksi jembatannya pun terbilang sederhana. Untuk panjang jembatan gantung sekitar 60 meter hanya diperlukan tipe satu pylon asimetris. Begitu pula sebaliknya. Bila lebih dari 60 meter maka menggunakan tipe dua pylon asimetris.

Bahan pokoknya yang dahulu menggunakan berbagai sumber alam yang ada di sekitar pedesaan, kini cukup menggunakan bahan pre fabrikasi. Bahan pre fabrikasi ini mudah dibawa dari pabrik yang mengolah bahan bangunan untuk jembatan gantung. Sesampainya di lokasi pembuatan jembatan gantung bahan pre fabrikasi ini tinggal diterapkan ke dalam pondasi jembatan gantung dan bagian-bagian lainnya. Hasilnya cepat, praktis, bagus dan tahan lama.

Dengan adanya jembatan gantung model pre fabrikasi ini, selain bisa menghemat waktu pengerjaan juga bisa menghemat biaya pembuatanjembatan gantung. Dengan demikian jembatan gantung lekas memenuhi harapan masyarakat yang ada di sekitarnya untuk bisa membantu mereka mengangkut hasil tani, produksi, bersekolah dan ke kantor dengan lebih cepat dan aman.

Keunggulan lainnya dari bahan pre fabrikasi jembatan gantung ini adalah bahannya lebih kokoh, kaku dan tidak akan bergoyang bila dilintasi secara bersamaan oleh sekelompok orang yang berjalan kaki maupun berkendara roda dua. Jadi, pembuatan jembatan gantung dengan bahan tersebut sangat aman dan rekomendasi untuk digunakan.

Kini masyarakat tidak perlu repot bila ingin membuat jembatan gantung. Sebab sekarang banyak sekali kontraktor yang bersedia membantu masyarakat membuat jembatan gantung di daerahnya.

Pembuatan jembatan gantung dengan menggunakan jasa kontraktor pun terbilang aman, murah dan praktis. Masyarakat tidak perlu repot mendesain jembatan gantung dan menghitung konstruksi jembatannya. Semuanya akan dikerjakan secara profesional oleh kontraktor yang bersangkutan.

Sebelum mengerjakan pembuatanjembatan gantung, umumnya pihak kontraktor akan memeriksa kondisi tanah dan lokasi jembatan gantung yang akan dibangun. Ia akan menghitung juga kekuatan konstruksi jembatan, bahan pokok yang dibutuhkan, tumpuan balok dan lantai jembatan gantung, besar biaya yang dibutuhkan dan biaya dokumentasi pembuatan jembatan gantung. Serta tidak lupa perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk membuat jembatan gantung tersebut.

Untuk pembuatan jembatan gantung yang berukuran besar, dalam arti lebarnya lebih dari dua meter, biasanya pihak kontraktor juga menyediakan beberapa hal penting lainnya. Seperti, desain struktur jembatan gantung, dokumen pelelangan pengadaan jasa pembuatan jembatan gantung, dan masih banyak lagi.

Material pokok untuk membuat jembatan gantung nya biasanya merupakan bahan pre fabrikasi yang siap tuang dan pakai. Kawat-kawat baja, kabel-kabel yang memiliki ketegangan tinggi, kerikil, pasir, semen, dan lain-lain digunakan juga. Selain itu tidak jarang sebagai pemanis biasanya digunakan pipa atau beton yang berfungsi ganda. Selain pemanis desain jembatan gantung juga sebagai penahan jembatan gantung.

Perlu diketahui bahwa pembuatan jembatan gantung itu haruslah bersifat lentur. Karena ia menggunakan dua daerah yang terpisah. Bila ia dibuat secara kaku maka ia bukanlah jembatan gantung. Jembatan gantung adalah jembatan yang digantung. Kekuatannya terletak pada kemampuan bahan materialnya dalam menahan kelenturan, gerakan jembatan gantung terhadap perubahan gerak angin dan cuaca yang ada di sekitarnya. Itu sebabnya maka kita akan melihat ciri khas jembatan gantung di manapun jembatan gantung ini berada. Yaitu, banyaknya tali penyangga dan penahan yang digunakan oleh jembatan gantung tersebut.