Rumah Idaman? Berikut Edukasi Pondasi Tahan Gempa

By | 10 Juni 2019
No ratings yet.

Rumah Idaman, Pastikan Pondasi Harus Tahan Gempa! Gempa bumi merupakan bencana alam yang tidak bisa diprediksi kedatangannya. Apalagi dampak pasca bencana yang ditimbulkan sangat banyak mengakibatkan kerugian baik nyawa maupun material.

Dewasa ini, mulai banyak alat detektor gempa dan kegiatan simulasi bencana yang mana didalamnya dibahas tentang cara-cara mengatasi dan menyikapi jika terjadi gempa serta tindakan recovery setelahnya. Salah satunya adalah dari meminimalisir dampak serta kerugian yang akan ditanggung melalui edukasi pondasi tahan gempa.

Edukasi tersebut berisi tentang bangunan tahan gempa yang dinilai kuat dan mampu bertahan saat terjadi guncangan. Bangunan tahan gempa sendiri adalah bangunan dengan konsep menyatukan satu kesatuan dengan utuh sehingga tidak mudah terlepas atau runtuh saat ada guncangan.

Hal yang paling utama dari sebuah bangunan tahan gempa adalah edukasi pondasi tahan gempa yang baik. Yang saling menyambung ke seluruh bagian rumah serta yang paling utama adalah pemilihan bahan yang baik. Karena bahan untuk membuat pondasi inilah yang menentukan kekuatan pondasi dan sebuah rumah kedepannya.

Biasanya pondasi ini menggunakan batu kali dengan jarak antara sloof satu dengan sloof lainnya setengah meter. Tujuannya adalah setiap sloof terhubung dengan bagian rumah, sehingga menguatkan bangunan saat terjadi guncangan. Namun demikian ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan saat membuat pondasi tahan gempa tersebut.

Edukasi Pondasi Harus Tahan Gempa

Hal pertama yang harus diperhatikan saat membuat edukasi pondasi tahan gempa adalah pondasi harus terletak pada susunan tanah yang keras. Karena tujuan dari pondasi ini adalah mengalihkan beban bangunan ke tanah, maka dibutuhkan susunan tanah yang stabil dan keras.

Jika dirasa susunan tanah kurang keras, maka dilakukan pengerjaan khusus, misal menggalinya terlebih dahulu hingga kedalaman tertentu. Setelah itu diamkan beberapa hari agar tanah mengeras sambil disiram air dan dipadatkan secara manual. Jika dirasa masih kurang keras, bisa ditambahkan sirtu (pasir dan batu).

Selanjutnya hal yang perlu diperhatikan saat membuat edukasi pondasi tahan gempa adalah kedalaman pondasi harus jauh di dalam tanah. Saat pondasi batu kali digunakan sebagai pondasi tahan gempa, maka sekurang-kurangnya harus sedalam 45 cm untuk bangunan satu lantai. Sedangkan untuk bangunan dua lantai setidaknya 60 cm.

Atau bisa saja menggunakan kedalaman 45 cm untuk pondasi bangunan dua lantai. Hanya saja pada bagian-bagian tertentu misal pertemuan antara kolom dan dinding bisa ditambah dengan pondasi telapak atau sumuran di bagian bawahnya.

Selanjutnya edukasi pondasi tahan gempa harus dibuat menerus dan tidak terputus. Seringnya para pemborong demi menghemat pengeluaran memotong pondasi tepat di bawah pintu. Alasannya karena bagian bawah pintu tidak menahan gempa. Serta kurang efisien untuk di sambungkan.

Memang tidak menahan beban bangunan, namun pondasi yang terpotong saat terjadi guncangan tidak akan meneruskan beban secara merata dan menyeluruh ke semua bagian banguanan. Dampaknya sering terjadi penurunan pondasi, retak rambut, dan bahkan fatalnya bisa roboh.

Setelah badan pondasi batu kali selesai, selanjutnya adalah pemasangan pengikat pondasi atau sloof yang terbuat dari beton. Pemasangan sloof ini berfungsi sebagai pendistribusian beban bangunan ke seluruh bagian bangunan. edukasi pondasi tahan gempa ini tidak hanya pada pondasi menerus saja namun juga pada pondasi lainnya dengan tujuan hampir serupa.

Setelah terpasang sloof perlu diikat dengan angker di sepanjang jarak setiap setengah meter agar nantinya kedudukan sloof bisa benar-benar kokoh dan tidak mudah terjadi penurunan pondasi kedepannya. Jangan lupa pastikan pula antara pondasi, sloof, dan kolom terikat satu sama lain agar saat terjadi guncangan bangunan tidak terlalu berat menerima beban.

Nah, diatas adalah cara membuat edukasi pondasi tahan gempa jika kalian ingin membangun rumah. Namun, jika kalian akan membeli rumah jadi, maka perhatikan ulasan berikut tentang bagaimana saja ciri-ciri sebuah bangunan yang memenuhi kriteria bangunan tahan gempa.

Ciri pertama dan utama yang harus kalian perhatikan adalah di atas tanah seperti apa rumah tersebut dibangun. Guncangan akan menjalar melalui tanah, oleh karena itu memperhatikan kontur tanah adalah hal yang paling utama. Apakah rumah tersebut berdiri diatas tanah yang keras atau tidak.

Seperti dijelaskan pada edukasi pondasi tahan gempa diatas, bahwa tanah kasar dan keras akan mengalihkan beban bangunan menuju tanah. Bayangkan saja apa jadinya jika sebuah bangunan berdiri di atas tanah porus dengan kestabilan tanah yang buruk. Pasti saat terjadi guncangan, rumah kalian adalah bangunan yang akan pertama kali ambles.

Selanjutnya, sebelum membeli sebuah rumah, lihat dulu denah wilayah dan bentukan rumah. Asal kalian tahu, ternyata bentukan rumah yang simetris dan simple alias tanpa aksen berlebihan lebih ampuh dalam hal tahan terhadap guncangan. Ini karena pada bangunan simetris, penyebaran beban guncangan lebih merata dan mengurangi efek torsi.

Sebuah bangunan yang memperhatikan edukasi pondasi tahan gempa selanjutnya dicirikan dengan konstruksi khusus bangunan tahan gempa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya pemilihan pondasi. Di atas telah kita bahas bagaimana sebuah pondasi yang baik dan benar itu.

Aspek selanjutnya adalah pemilihan bahan beton. Beton yang dipilih presisi antara agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), air, serta semen harus pas dan seimbang. Hal ini bertujuan mengurangi retakan bahkan resiko runtuh saat terjadi gempa. Selain itu perhatikan juga dengan detail jumlah tulangan beton serta apakah campuran beton sudah sesuai presisi.

Dalam edukasi pondasi tahan gempa upaya meminimalkan material juga tidak kalah pentingnya. Hal ini bertujuan agar material justru tidak menjadi penambah beban bagi banguanan. Cukup gunakan bahan sewajarnya saja namun dengan kualitas luar biasa. Daripada kualitas bahan biasa-biasa saja namun memerlukan material lebih banyak, hal ini sangatlah tidak efektif dan efisien.

Misalnya saja kalian bisa mengganti atap konvensional dari genting dengan baja ringan. Dengan mengganti material genting, beban yang tadinya banyak bisa lebih ringan dan tidak terlalu membahayakan. Selain itu, dengan material yang tepat, potensi kerusakan saat terjadi gempa bisa diminimalisir.

Atau kalian juga bisa meniru beberapa prinsip orang Jepang dalam hal pengaplikasian edukasi pondasi tahan gempa. Ini karena kontur permukaan bumi antara Jepang dan Indonesia hampir sama. Ditambah Jepang sangat rawan terhadap gempa bumi sehingga mereka telah lebih dulu menerapkan sistem bangunan tahan gempa.

Beberapa prinsip dasar yang dianut Jepang dalam mengaplikasikan bangunan tahan gempa adalah meredam dampak gempa bumi, penggunaan material kayu, sistem knock down atau bongkar pasang, pengerjaan dan perencanaan sesuai presisi, perencanaan menggunakan prinsip modul dengan panjang 910-1000 cm.

Dewasa ini, penggunaan dan pengaplikasian edukasi pondasi tahan gempa sangat dianjurkan. Karena banyak konstruksi gedung-gedung roboh sehingga mengakibatkan kerugian baik jiwa maupun material. Memang sedikit mahal dan lebih ribet, namun jika demi keamanan mengapa tidak, bukan?